CERAMAH SEMASA OLEH TN.HJ AHMAD AZAM
- Mantan Presiden ABIM

MUKTAMAR SANAWI ABIM PERLIS KALI KE-35

KAMI ADALAH DAIE
Oleh: Sofyan Siroj Aw, Lc, MM
Petikan : dakwahtuna.com

NAHNU DU’AATUN QABLA KULLI SYAI’IN.
“KAMI ADALAH DAIE SEBELUM JADI APAPUN”.


SETIAP muslim adalah daie. Kalau bukan daie kepada Allah, bererti ia adalah daie kepada selain Allah, tidak ada pilihan ketiganya. Sebab dalam hidup ini, kalau bukan Islam bererti hawa nafsu. Kehidupan di dunia ini adalah hamparan nikmat sementara dan kita bebas memilih, yang akhirnya apa yang dipilih akan dipertanggungjawabkan di hadapan Rabbul insan kelak. Bagi muslim, dakwah merupakan darah bagi tubuhnya, ia tidak boleh hidup tanpanya.


Masih ramai manusia disekeliling kita yang memerlukan nasihat Islami.
Pasaran Dakwah masih luas terbuka. Dimana peranan kita?

Dakwah merupakan aktiviti yang begitu dekat dengan kehidupan kaum muslimin. Begitu dekatnya sehingga hampir seluruh lapisan terlibat di dalamnya. Sayang keterlibatan tersebut tidak dibekali ”Fiqh Dakwah” sehingga kerosakan yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada kebaikan yang diperbuat.

Di sini menjadi jelas akan pentingnya keperluan terhadap fiqh dakwah, sebagaimana digambarkan para ulama, bahwa ”keperluan manusia kepada ilmu melebihi daripada keperluan terhadap makan dan minum”. Sehingga penting bagi kaum muslimin yang telah dan hendak terjun dalam kancah dakwah untuk membekali diri dengan pemahaman yang utuh terhadap Islam dan dakwah Islam. Kerena orang yang melaksanakankan berdasarkan manual piawai semata-mata tanpa memiliki pemahaman yang benar terhadap Islam ”sama bahayanya” dengan orang yang memiliki pemahaman yang benar akan tetapi bodoh di dalam menyampaikan, mengapa?

Pertama; ia akan menyesatkan kaum muslimin dengan kepiawaiannya (logik yang kosong). Kedua; Hal itu akan menjadi ”dalil” bagi orang-orang kafir dalam kekafirannya (keungulan bungkusannya).

Fiqh dakwah merupakan ilmu untuk memastikan lahirnya pemahaman sebenar terhadap Islam, didukung dengan baik dalam menyampaikannya kepada khalayak. Usaha yang berterusan dengan gerak kerja dakwah ini ummat dapat menyaksikan ”Islam” dalam diri, keluarga dan aktiviti para daie yang melakukan perbaikan ummat secara integrasi, mengeluarkan manusia dari pekat jahiliyah menuju cahaya Islam.

Bagi mereka yang yang berjalan di atas rel kafilah dakwah menuju cahaya dan kebahagiaan dunia dan akhirat, dapat melihat prinsip-prinsip dakwah dan kaedah- kaedahnya, agar menjadi hujjah atau pegangan bagi manusia dan menjadi alasan di hadapan Allah. Usul fiqh sebagai bekal para daie tersebut adalah sebagai berikut:

1. Qudwah (teladan) sebelum dakwah
2. Menjalin keakraban sebelum pengajaran
3. Mengenalkan Islam sebelum memberi tugas
4. Bertahap dalam pembebanan tugas
5. Mempermudah, bukan merumitkan
6. Menyampaikan yang usul (dasar) sebelum yang furu’ (cabang)
7. Memberi khabar gembira sebelum ancaman
8. Memahamkan, bukan dipaksa faham
9. Mendidik bukan menelanjangi
10. Menjadi murid seorang imam, bukan muridnya buku.

Harapan, kiranya Allah swt senantiasa mencurahkan taufiq dan petunjuk-Nya kepada para daie yang ikhlas menyeru manusia ke jalan Allah, memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat serta tempat kerja, sehingga Allah terlibat dalam urusan dan kebijakan-kebijakan yang akan ditetapkan untuk orang banyak, demi tegaknya tatanan Islam yang indah dalam kehidupan dengan bimbingan Allah dan sesuai panduan manhaj (aturan) dakwah Rasulullah saw. Wallahu ‘alam.



3 LANGKAH
MENJADI MANUSIA TERBAIK


ADA hadis pendek namun sarat makna dikutip dari Imam Suyuthi dalam bukunya Al-Jami’ush Shaghir. Bunyinya, “Khairun naasi anfa’uhum linnaas.” Terjemahan bebasnya:
“Sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain.”

Darjat hadis ini ini menurut Imam Suyuthi tergolong hadits hasan. Syeikh Nasiruddin Al-Bani dalam bukunya Shahihul Jami’ush Shagir sependapat dengan penilaian Suyuthi.

Hakikatnya, manusia itu makhluk sosial. Tiada siapa yang boleh menafikan. Tidak ada satu orangpun yang boleh hidup sendirian. Semua saling bergantungan. Saling memerlukan.Kerena saling memerlukan, pola hubungan seseorang dengan orang lain adalah untuk saling mengambil manfaat. Ada yang memberi jasa dan ada yang mendapat jasa. Si pemberi jasa mendapat imbalan dan penerima jasa mendapat manfaat. Itulah pola hubungan yang lazim. Adil.

Jika ada orang yang mengambil terlalu banyak manfaat dari orang lain dengan pengorbanan yang amat minima, naluri kita akan mengatakan itu tidak adil. Orang itu telah berlaku curang. Dan kita akan mengatakan seseorang berbuat jahat ketika mengambil banyak manfaat untuk dirinya sendiri dengan cara yang curang dan melanggar hak orang lain.

Begitulah hati sanubari kita, selalu menginginkan pola hubungan yang saling redha dalam mengambil manfaat dari satu sama lain. Jiwa kita akan senang dengan orang yang mengambil manfaat bagi dirinya dengan cara yang baik. Kita anggap seburuk-buruk manusia orang yang mengambil manfaat banyak dari diri kita dengan cara yang salah. Apakah itu menipu, mencuri, dan mengambil paksa, bahkan dengan kekerasan.
Namun yang luar biasa adalah orang lebih banyak memberi dari mengambil manfaat dalam berhubungan dengan orang lain. Orang yang seperti ini kita sebut orang yang terbaik di antara kita. Dermawan. Ikhlas. Tidak punya vested interest.

Orang yang selalu mengusahakan kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain adalah sebaik-baik manusia. Kenapa Rasulullah saw. menyebut seperti itu? Setidaknya ada empat alasan. Pertama, karena ia dicintai Allah swt. Rasulullah saw. pernah bersabda yang bunyinya kurang lebih, orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Siapakah yang lebih baik dari orang yang dicintai Allah?

Alasan kedua, karena ia melakukan amal yang terbaik. Kaedah usul fiqih menyebutkan bahawa kebaikan yang amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat berbanding yang manfaatnya dirasakan oleh diri sendiri. Apalagi jika ruangnya lebih luas lagi. Amal itu boleh menyebabkan orang seluruh negeri merasakan manfaatnya. Karena itu tak hairan jika para sahabat ketika ingin melakukan suatu kebaikan bertanya kepada Rasulullah, amal apa yang paling afdhol untuk dikerjakan.

Ketika musim kemarau dan masyarakat kesulitan air, Rasulullah berkata membuat sumur/telaga adalah amal yang paling utama. Saat seseorang ingin berjihad sementara ia punya ibu yang sakit dan tidak ada yang merawat, Rasulullah menyebut berbakti kepada si ibu adalah amal yang paling utama bagi orang itu.

Ketiga, kerena ia melakukan kebaikan yang sangat besar pahalanya. Berbuat sesuatu untuk orang lain besar pahalanya. Bahkan Rasulullah saw. berkata,
“Seandainya aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi suatu keperluannya, maka itu lebih aku cintai daripada iktikaf sebulan di masjidku ini.” (Thabrani). Subhanallah.

Keempat, memberi manfaat kepada orang lain tanpa balasan, mengundang kesaksian dan pujian orang yang beriman. Allah swt. mengikuti persangkaan hambanya. Ketika orang menilai diri kita adalah orang yang baik, maka Allah swt. menggolongkan kita ke dalam golongan hambanya yang baik-baik.

Pernah suatu ketika lalu orang membawa jenazah untuk dihantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut orang itu sebagai orang yang tidak baik. Kemudian lalu lagi orang-orang membawa jenazah lain untuk dihantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut kebaikan si mayat. Rasulullah saw. membenarkan. Seperti itu jugalah Allah swt. Karena itu di surat At-Taubah ayat 105, Allah swt. menyuruh Rasulullah saw. untuk memerintahkan kita, orang beriman, untuk beramal sebaik-baiknya amal agar Allah, Rasul, dan orang beriman menilai amal-amal kita. Di hari akhir, Rasul dan orang-orang beriman akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita seperti yang mereka saksikan di dunia.

Kemiskinan dan kekayaan hanyalah ujian Allah SWT untuk meletakkan sejauh mana

kefahaman dan darjat iman manusia.

Untuk menjadi orang yang banyak memberi manfaat kepada orang lain, kita perlu menyiapkan beberapa hal dalam diri kita. Pertama, tingkatkan keimanan kita kepada Allah swt. Sebab, amal tanpa mengharapkan balasan adalah amal yang hanya mengharap redha kepada Allah. Kita tidak meminta balasan dari manusia, cukup dari Allah swt. saja balasannya. Ketika iman kita tipis terkikis, tak mungkin kita akan mampu beramal ikhlas Lillahi Ta’ala.

Ketika iman kita memuncak kepada Allah swt., segala amal untuk memberi manfaat bagi orang lain menjadi ringan dilakukan. Bilal bin Rabah bukanlah orang kaya. Ia hidup miskin. Namun kepadanya, Rasulullah saw. memerintahkan untuk bersedekah. Sebab, sedekah tidak membuat rezeki berkurang. Begitu kata Rasulullah saw. Bilal mengimani janji Rasulullah saw. itu. Ia tidak ragu untuk bersedekah dengan apa yang dimiliki dalam keadaan sesukar sekalipun.

Kedua, untuk mampu memberi manfaat yang banyak kepada orang lain, kita harus mengikis habis sifat egois dan rasa serakah terhadap materialistik dari diri kita. Allah swt. memberi contoh kaum Ansar. Lihat surat Al-Hasyr ayat 9. Merekalah sebaik-baik manusia. Memberikan semua yang mereka perlukan untuk saudara mereka kaum Muhajirin. Bahkan, ketika kaum Muhajirin telah kukuh taraf kehidupan dan ekonomi, tidak terdetik di hati mereka untuk meminta kembali apa yang pernah mereka beri.

Yang ketiga, tanamkan dalam diri kita secara logiknya sisa harta yang ada pada diri kita adalah yang telah diberikan kepada orang lain. Bukan yang ada dalam genggaman kita. Logik ini diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada kita. Suatu ketika Rasulullah saw. menyembelih kambing. Beliau memerintahkan seorang sahabat untuk menyedekahkan daging kambing itu. Setelah dibagi-bagi, Rasulullah saw. bertanya, berapa yang tersisa. Sahabat itu menjawab, hanya tinggal sepotong paha. Rasulullah saw. Memperbetulkan jawapan sahabat itu. Yang tersisa bagi kita adalah apa yang telah diberikan.

Begitulah. Yang tersisa adalah yang telah diberikan kepada orang lain. Itulah milik kita yang hakiki kerana kekal menjadi tabungan kita di akhirat. Sementara, daging paha yang belum dibahagikan hanya akan menjadi sampah jika busuk tidak sempat kita manfaatkan, atau menjadi kotoran ketika kita makan. Begitulah harta kita. Jika kita tidak memanfaatkannya untuk beramal, maka tidak akan menjadi milik kita selamanya. Harta itu akan habis lapuk karena waktu, hilang karena kematian kita, dan selalu menjadi intaian ahli waris kita. Maka tidak hairanlah jika dalam sejarah kita melihat bahawa para sahabat dan salafussaleh mudah saja menginfakkan wang yang mereka miliki. Sehinggakan tidak terfikir untuk meninggalkan barang sedirham pun untuk diri mereka sendiri.

Keempat, kita akan mudah memberi manfaat tanpa balasan kepada orang lain jika dibenak kita ada pemahaman bahwa sebagaimana kita memperlakukan seperti itu jugalah kita akan diperlakukan. Jika kita memuliakan tamu, maka seperti itu jugalah yang akan kita dapat ketika bertamu. Ketika kita berkunjung ke tetangga, maka sikap seperti itu jugalah yang kita dari tetangga kita.

Kelima, untuk boleh memberi, tentu kita harus memiliki sesuatu untuk diberi. Kumpulkan bekal apapun bentuknya, sama ada berbentuk kewangan, fikiran, tenaga, waktu, dan perhatian. Jika kita punya air, kita boleh memberi minum orang yang haus. Jika punya ilmu, kita boleh mengajarkan orang yang tidak tahu. Ketika kita sihat, kita boleh membantu beban seorang nenek yang menjinjing beg yang besar. Luangkan waktu untuk bersosialisasi, dengan begitu kita boleh hadir untuk masyarakat di sekitar kita.


Firman Allah SWT:
Tidak engkau diwajibkan (wahai Muhammad )
menjadikan mereka (yang kafir) mendapat pertunjuk, (kerana kewajipanmu hanya menyampaikan pertunjuk), akan tetapi Allah jualah yang memberi petunjuk (dengan memberi taufik) kepada sesiapa yang dihendakiNya (menurut undang-undang peraturanNya ). Dan apa jua harta yang halal
yang kamu belanjakan (pada jalan Allah) maka (faedahnya dan pahalanya) adalah untuk diri kamu sendiri. Dan kamu pula tidaklah mendermakan
sesuatu melainkan kerana menuntut keredhaan Allah. Dan apa jua kamu dermakan dari harta yang halal, akan disempurnakan (balasan pahalanya) kepada kamu, dan (balasan baik) kamu (itu pula) tidak dikurangkan.

Al-Baqarah :272

KURSUS INTENSIF
PENGGERAK BRIGED BAKTI MALAYSIA
Bergambar bersama Dato' Dr Razak selaku pengerusi BB Malaysia (berbaju ungu)


KURSUS yang berlangsung selama 3 hari ini diadakan di D’Ark Taman Sri Kasih, Seremban Negeri Sembilan bermula pada 8 Mei yang lalu. ABIM Negeri Sembilan dengan kerjasama ABIM Pusat sebagai penganjur utama telah menggabungkan peserta dari Zon Tengah dan Zon Utara sebagai persediaan awal kepada penubuhan badan sukarela ini di peringkat kebangsaan.
Sdr. Jufitri Joha selaku Penyelaras kursus, telah dibantu oleh Encik Che Yob Mahamood (Penyelaras Briged Bakti Negeri Kelantan-Sekolah Menengah) bersama-sama dengan pasukan Briged Bakti Kelantan dan juga “Ayah Aji” menjadikan program ini berjalan dalam suasana ukhuwah dan berdisplin. Antara wakil-wakil negeri yang hadir adalah dari Melaka, Pahang, Selangor, Wilayah Persekutuan, Perlis dan Negeri Sembilan selaku tuan rumah.

Pelbagai latihan didedahkan seperti kepimpinan, asas kawad, asas perkhemahan dan asas bantuan kecemasan serta pengisian rohani bagi memahir dan memantapkan peserta terhadap kerja-kerja kesukarelawanan.

Kawad kaki antara latihan yang dedahkan kepada peserta dan memberi banyak manifestasi didalamnya

Briged Bakti disifatkan sebagai Pertubuhan Sukarelawan Islam pertama yang memenuhi segala keperluan dan ilmu berkaitan kerja-kerja kemasyarakatan yang tuntas. Secara ringkasnya, pertubuhan ini dibangunkan supaya mampu membantu masyarakat menguruskan kehidupan dan kematian yang tidak dimiliki oleh kebanyakan badan sukarela. Berikutan situasi semasa dengan pelbagai masalah dan isu kemasyarakatan yang semakin berleluasa, badan ini dilihat sebagai produk penyelesaian yang terbaik terutamanya melalui penglibatan generasi belia.

Pertubuhan ini akan dibuka penyertaannya kepada pelajar sekolah dan masyarakat awam tetapi tumpuan awal adalah untuk menubuhkannya di peringkat sekolah-sekolah seluruh negara.

Apabila Allah S.W.T. menegur
orang-orang yang beriman

38.
Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu, apabila dikatakan kepada kamu: "Pergilah beramai-ramai untuk berjuang di jalan Allah", kamu merasa keberatan (dan suka tinggal menikmati kesenangan) di tempat (masing-masing)? Adakah kamu lebih suka dengan kehidupan dunia daripada akhirat? (Kesukaan kamu itu salah) kerana kesenangan hidup di dunia ini hanya sedikit jua berbanding dengan (kesenangan hidup) di akhirat kelak.

39.
Jika kamu tidak pergi beramai-ramai (untuk berperang pada jalan Allah - membela agamanya), Allah akan menyeksa kamu dengan azab seksa yang tidak terperi sakitnya dan ia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat mendatangkan bahaya sedikitpun kepadaNya. Dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.

40.
Kalau kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad) maka sesungguhnya Allah telahpun menolongnya, iaitu ketika kaum kafir (di Makkah) mengeluarkannya (dari negerinya Makkah) sedang ia salah seorang dari dua (sahabat) semasa mereka berlindung di dalam gua, ketika ia berkata kepada sahabatnya: "Janganlah Engkau berdukacita, sesungguhnya Allah bersama kita". maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Nabi Muhammad) dan menguatkannya dengan bantuan tentera (malaikat) yang kamu tidak melihatnya. dan Allah menjadikan seruan (syirik) orang-orang kafir terkebawah (kalah dengan sehina-hinanya), dan kalimah Allah (Islam) ialah yang tertinggi (selama-lamanya), kerana Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.

41.
Pergilah kamu beramai-ramai (untuk berperang pada jalan Allah), sama ada dengan keadaan ringan (dan mudah bergerak) ataupun dengan keadaan berat (disebabkan berbagai-bagai tanggungjawab); dan berjihadlah dengan harta benda dan jiwa kamu pada jalan Allah (untuk membela Islam). Yang demikian amatlah baik bagi kamu, jika kamu mengetahui.

42.
Kalau apa yang Engkau serukan kepada mereka (Wahai Muhammad) sesuatu yang mudah yang sudah didapati, dan satu perjalanan yang sederhana (tidak begitu jauh), nescaya mereka (yang munafik itu) akan mengikutmu; tetapi tempat Yang hendak dituju itu jauh bagi mereka. Dan mereka akan bersumpah dengan nama Allah dengan berkata: "Kalau kami sanggup, tentulah kami akan pergi bersama kamu". (dengan sumpah dusta itu) mereka membinasakan diri mereka sendiri, sedang Allah mengetahui bahawa sesungguhnya mereka itu orang-orang yang berdusta (tentang tidak sanggupnya mengikutmu).
(Surah Al-Taubah: 38-42)


Ayat yang "direct to the point" boleh difahami tanpa tafsiran kitab-kitab yang hebat, Wallahua’lam.

petikan: wiraislam.blogspot

MESYUARAT AGUNG KBI KAWASAN NEGERI PERLIS
Antara sahabat-sahabat koperasi yang hadir
Kangar -5 April.

Mesyuarat Agung Kawasan telah selamat berlangsung. Majlis diadakan di Bilik Mesyuarat Jabatan Belia dan Sukan Negeri ; dirasmikan oleh Sdr. Nor Mokhles Sahid selaku Setiausaha KBI Pusat. Beliau dibantu wakil KBI Pusat, Sdr. Baharuddin membentangkan laporan dan prestasi KBI diperingkat negeri dan pusat. Perkembangan terbaru KBI mempromosikan produk Skim Pelaburan Emas yang semakin popular mutakhir ini dikalangan masyarakat Islam dan bukan Islam. Memandangkan ekonomi dunia sedang dilanda ketidaktentuan, KBI memfokuskan untuk lebih agresif mengajak ahli-ahli khususnya menyertai skim takaful dan pasaran emas yang kurang risiko ini. Walaupun begitu produk-produk turut tidak ketinggalan dipasarkan sekurang-kurangnya disedari oleh ahli.

Dalam masa terdekat juga KBI merancang untuk mewujudkan agen-agen takaful di setiap negeri yang akan dilaksanakan secara online tanpa memerlukan banyak kos operasi. Sdr. Najid Omar yang juga pengerusi KBI Negeri mengambil perhatian cadangan tersebut bagi membantu ABIM Negeri menjana kewangan. Sekretariat negeri boleh mengambil peranan tersebut di premis yang sedia ada. Semoga ianya dapat direalisasikan dengan kadar segera, Insya Allah.

- Terkini masyarakat Yahudi adalah yang teramai menyertai pasaran emas ini kerana menyedari ianya adalah produk kewangan yang paling stabil sejak zaman Rasulullah SAW lagi. Walaupun merekalah yang mencipta pelbagai isme-isme pemikiran baik politik dan ekonomi dunia, hakikatnya mereka mengakui kestabilan ekonomi Islam, hatta Al-Quran & Sunnah itu sendiri!