Memaparkan catatan dengan label tazkirah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label tazkirah. Papar semua catatan

KAMI ADALAH DAIE
Oleh: Sofyan Siroj Aw, Lc, MM
Petikan : dakwahtuna.com

NAHNU DU’AATUN QABLA KULLI SYAI’IN.
“KAMI ADALAH DAIE SEBELUM JADI APAPUN”.


SETIAP muslim adalah daie. Kalau bukan daie kepada Allah, bererti ia adalah daie kepada selain Allah, tidak ada pilihan ketiganya. Sebab dalam hidup ini, kalau bukan Islam bererti hawa nafsu. Kehidupan di dunia ini adalah hamparan nikmat sementara dan kita bebas memilih, yang akhirnya apa yang dipilih akan dipertanggungjawabkan di hadapan Rabbul insan kelak. Bagi muslim, dakwah merupakan darah bagi tubuhnya, ia tidak boleh hidup tanpanya.


Masih ramai manusia disekeliling kita yang memerlukan nasihat Islami.
Pasaran Dakwah masih luas terbuka. Dimana peranan kita?

Dakwah merupakan aktiviti yang begitu dekat dengan kehidupan kaum muslimin. Begitu dekatnya sehingga hampir seluruh lapisan terlibat di dalamnya. Sayang keterlibatan tersebut tidak dibekali ”Fiqh Dakwah” sehingga kerosakan yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada kebaikan yang diperbuat.

Di sini menjadi jelas akan pentingnya keperluan terhadap fiqh dakwah, sebagaimana digambarkan para ulama, bahwa ”keperluan manusia kepada ilmu melebihi daripada keperluan terhadap makan dan minum”. Sehingga penting bagi kaum muslimin yang telah dan hendak terjun dalam kancah dakwah untuk membekali diri dengan pemahaman yang utuh terhadap Islam dan dakwah Islam. Kerena orang yang melaksanakankan berdasarkan manual piawai semata-mata tanpa memiliki pemahaman yang benar terhadap Islam ”sama bahayanya” dengan orang yang memiliki pemahaman yang benar akan tetapi bodoh di dalam menyampaikan, mengapa?

Pertama; ia akan menyesatkan kaum muslimin dengan kepiawaiannya (logik yang kosong). Kedua; Hal itu akan menjadi ”dalil” bagi orang-orang kafir dalam kekafirannya (keungulan bungkusannya).

Fiqh dakwah merupakan ilmu untuk memastikan lahirnya pemahaman sebenar terhadap Islam, didukung dengan baik dalam menyampaikannya kepada khalayak. Usaha yang berterusan dengan gerak kerja dakwah ini ummat dapat menyaksikan ”Islam” dalam diri, keluarga dan aktiviti para daie yang melakukan perbaikan ummat secara integrasi, mengeluarkan manusia dari pekat jahiliyah menuju cahaya Islam.

Bagi mereka yang yang berjalan di atas rel kafilah dakwah menuju cahaya dan kebahagiaan dunia dan akhirat, dapat melihat prinsip-prinsip dakwah dan kaedah- kaedahnya, agar menjadi hujjah atau pegangan bagi manusia dan menjadi alasan di hadapan Allah. Usul fiqh sebagai bekal para daie tersebut adalah sebagai berikut:

1. Qudwah (teladan) sebelum dakwah
2. Menjalin keakraban sebelum pengajaran
3. Mengenalkan Islam sebelum memberi tugas
4. Bertahap dalam pembebanan tugas
5. Mempermudah, bukan merumitkan
6. Menyampaikan yang usul (dasar) sebelum yang furu’ (cabang)
7. Memberi khabar gembira sebelum ancaman
8. Memahamkan, bukan dipaksa faham
9. Mendidik bukan menelanjangi
10. Menjadi murid seorang imam, bukan muridnya buku.

Harapan, kiranya Allah swt senantiasa mencurahkan taufiq dan petunjuk-Nya kepada para daie yang ikhlas menyeru manusia ke jalan Allah, memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat serta tempat kerja, sehingga Allah terlibat dalam urusan dan kebijakan-kebijakan yang akan ditetapkan untuk orang banyak, demi tegaknya tatanan Islam yang indah dalam kehidupan dengan bimbingan Allah dan sesuai panduan manhaj (aturan) dakwah Rasulullah saw. Wallahu ‘alam.



3 LANGKAH
MENJADI MANUSIA TERBAIK


ADA hadis pendek namun sarat makna dikutip dari Imam Suyuthi dalam bukunya Al-Jami’ush Shaghir. Bunyinya, “Khairun naasi anfa’uhum linnaas.” Terjemahan bebasnya:
“Sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain.”

Darjat hadis ini ini menurut Imam Suyuthi tergolong hadits hasan. Syeikh Nasiruddin Al-Bani dalam bukunya Shahihul Jami’ush Shagir sependapat dengan penilaian Suyuthi.

Hakikatnya, manusia itu makhluk sosial. Tiada siapa yang boleh menafikan. Tidak ada satu orangpun yang boleh hidup sendirian. Semua saling bergantungan. Saling memerlukan.Kerena saling memerlukan, pola hubungan seseorang dengan orang lain adalah untuk saling mengambil manfaat. Ada yang memberi jasa dan ada yang mendapat jasa. Si pemberi jasa mendapat imbalan dan penerima jasa mendapat manfaat. Itulah pola hubungan yang lazim. Adil.

Jika ada orang yang mengambil terlalu banyak manfaat dari orang lain dengan pengorbanan yang amat minima, naluri kita akan mengatakan itu tidak adil. Orang itu telah berlaku curang. Dan kita akan mengatakan seseorang berbuat jahat ketika mengambil banyak manfaat untuk dirinya sendiri dengan cara yang curang dan melanggar hak orang lain.

Begitulah hati sanubari kita, selalu menginginkan pola hubungan yang saling redha dalam mengambil manfaat dari satu sama lain. Jiwa kita akan senang dengan orang yang mengambil manfaat bagi dirinya dengan cara yang baik. Kita anggap seburuk-buruk manusia orang yang mengambil manfaat banyak dari diri kita dengan cara yang salah. Apakah itu menipu, mencuri, dan mengambil paksa, bahkan dengan kekerasan.
Namun yang luar biasa adalah orang lebih banyak memberi dari mengambil manfaat dalam berhubungan dengan orang lain. Orang yang seperti ini kita sebut orang yang terbaik di antara kita. Dermawan. Ikhlas. Tidak punya vested interest.

Orang yang selalu mengusahakan kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain adalah sebaik-baik manusia. Kenapa Rasulullah saw. menyebut seperti itu? Setidaknya ada empat alasan. Pertama, karena ia dicintai Allah swt. Rasulullah saw. pernah bersabda yang bunyinya kurang lebih, orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Siapakah yang lebih baik dari orang yang dicintai Allah?

Alasan kedua, karena ia melakukan amal yang terbaik. Kaedah usul fiqih menyebutkan bahawa kebaikan yang amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat berbanding yang manfaatnya dirasakan oleh diri sendiri. Apalagi jika ruangnya lebih luas lagi. Amal itu boleh menyebabkan orang seluruh negeri merasakan manfaatnya. Karena itu tak hairan jika para sahabat ketika ingin melakukan suatu kebaikan bertanya kepada Rasulullah, amal apa yang paling afdhol untuk dikerjakan.

Ketika musim kemarau dan masyarakat kesulitan air, Rasulullah berkata membuat sumur/telaga adalah amal yang paling utama. Saat seseorang ingin berjihad sementara ia punya ibu yang sakit dan tidak ada yang merawat, Rasulullah menyebut berbakti kepada si ibu adalah amal yang paling utama bagi orang itu.

Ketiga, kerena ia melakukan kebaikan yang sangat besar pahalanya. Berbuat sesuatu untuk orang lain besar pahalanya. Bahkan Rasulullah saw. berkata,
“Seandainya aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi suatu keperluannya, maka itu lebih aku cintai daripada iktikaf sebulan di masjidku ini.” (Thabrani). Subhanallah.

Keempat, memberi manfaat kepada orang lain tanpa balasan, mengundang kesaksian dan pujian orang yang beriman. Allah swt. mengikuti persangkaan hambanya. Ketika orang menilai diri kita adalah orang yang baik, maka Allah swt. menggolongkan kita ke dalam golongan hambanya yang baik-baik.

Pernah suatu ketika lalu orang membawa jenazah untuk dihantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut orang itu sebagai orang yang tidak baik. Kemudian lalu lagi orang-orang membawa jenazah lain untuk dihantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut kebaikan si mayat. Rasulullah saw. membenarkan. Seperti itu jugalah Allah swt. Karena itu di surat At-Taubah ayat 105, Allah swt. menyuruh Rasulullah saw. untuk memerintahkan kita, orang beriman, untuk beramal sebaik-baiknya amal agar Allah, Rasul, dan orang beriman menilai amal-amal kita. Di hari akhir, Rasul dan orang-orang beriman akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita seperti yang mereka saksikan di dunia.

Kemiskinan dan kekayaan hanyalah ujian Allah SWT untuk meletakkan sejauh mana

kefahaman dan darjat iman manusia.

Untuk menjadi orang yang banyak memberi manfaat kepada orang lain, kita perlu menyiapkan beberapa hal dalam diri kita. Pertama, tingkatkan keimanan kita kepada Allah swt. Sebab, amal tanpa mengharapkan balasan adalah amal yang hanya mengharap redha kepada Allah. Kita tidak meminta balasan dari manusia, cukup dari Allah swt. saja balasannya. Ketika iman kita tipis terkikis, tak mungkin kita akan mampu beramal ikhlas Lillahi Ta’ala.

Ketika iman kita memuncak kepada Allah swt., segala amal untuk memberi manfaat bagi orang lain menjadi ringan dilakukan. Bilal bin Rabah bukanlah orang kaya. Ia hidup miskin. Namun kepadanya, Rasulullah saw. memerintahkan untuk bersedekah. Sebab, sedekah tidak membuat rezeki berkurang. Begitu kata Rasulullah saw. Bilal mengimani janji Rasulullah saw. itu. Ia tidak ragu untuk bersedekah dengan apa yang dimiliki dalam keadaan sesukar sekalipun.

Kedua, untuk mampu memberi manfaat yang banyak kepada orang lain, kita harus mengikis habis sifat egois dan rasa serakah terhadap materialistik dari diri kita. Allah swt. memberi contoh kaum Ansar. Lihat surat Al-Hasyr ayat 9. Merekalah sebaik-baik manusia. Memberikan semua yang mereka perlukan untuk saudara mereka kaum Muhajirin. Bahkan, ketika kaum Muhajirin telah kukuh taraf kehidupan dan ekonomi, tidak terdetik di hati mereka untuk meminta kembali apa yang pernah mereka beri.

Yang ketiga, tanamkan dalam diri kita secara logiknya sisa harta yang ada pada diri kita adalah yang telah diberikan kepada orang lain. Bukan yang ada dalam genggaman kita. Logik ini diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada kita. Suatu ketika Rasulullah saw. menyembelih kambing. Beliau memerintahkan seorang sahabat untuk menyedekahkan daging kambing itu. Setelah dibagi-bagi, Rasulullah saw. bertanya, berapa yang tersisa. Sahabat itu menjawab, hanya tinggal sepotong paha. Rasulullah saw. Memperbetulkan jawapan sahabat itu. Yang tersisa bagi kita adalah apa yang telah diberikan.

Begitulah. Yang tersisa adalah yang telah diberikan kepada orang lain. Itulah milik kita yang hakiki kerana kekal menjadi tabungan kita di akhirat. Sementara, daging paha yang belum dibahagikan hanya akan menjadi sampah jika busuk tidak sempat kita manfaatkan, atau menjadi kotoran ketika kita makan. Begitulah harta kita. Jika kita tidak memanfaatkannya untuk beramal, maka tidak akan menjadi milik kita selamanya. Harta itu akan habis lapuk karena waktu, hilang karena kematian kita, dan selalu menjadi intaian ahli waris kita. Maka tidak hairanlah jika dalam sejarah kita melihat bahawa para sahabat dan salafussaleh mudah saja menginfakkan wang yang mereka miliki. Sehinggakan tidak terfikir untuk meninggalkan barang sedirham pun untuk diri mereka sendiri.

Keempat, kita akan mudah memberi manfaat tanpa balasan kepada orang lain jika dibenak kita ada pemahaman bahwa sebagaimana kita memperlakukan seperti itu jugalah kita akan diperlakukan. Jika kita memuliakan tamu, maka seperti itu jugalah yang akan kita dapat ketika bertamu. Ketika kita berkunjung ke tetangga, maka sikap seperti itu jugalah yang kita dari tetangga kita.

Kelima, untuk boleh memberi, tentu kita harus memiliki sesuatu untuk diberi. Kumpulkan bekal apapun bentuknya, sama ada berbentuk kewangan, fikiran, tenaga, waktu, dan perhatian. Jika kita punya air, kita boleh memberi minum orang yang haus. Jika punya ilmu, kita boleh mengajarkan orang yang tidak tahu. Ketika kita sihat, kita boleh membantu beban seorang nenek yang menjinjing beg yang besar. Luangkan waktu untuk bersosialisasi, dengan begitu kita boleh hadir untuk masyarakat di sekitar kita.


Apabila Allah S.W.T. menegur
orang-orang yang beriman

38.
Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu, apabila dikatakan kepada kamu: "Pergilah beramai-ramai untuk berjuang di jalan Allah", kamu merasa keberatan (dan suka tinggal menikmati kesenangan) di tempat (masing-masing)? Adakah kamu lebih suka dengan kehidupan dunia daripada akhirat? (Kesukaan kamu itu salah) kerana kesenangan hidup di dunia ini hanya sedikit jua berbanding dengan (kesenangan hidup) di akhirat kelak.

39.
Jika kamu tidak pergi beramai-ramai (untuk berperang pada jalan Allah - membela agamanya), Allah akan menyeksa kamu dengan azab seksa yang tidak terperi sakitnya dan ia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat mendatangkan bahaya sedikitpun kepadaNya. Dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.

40.
Kalau kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad) maka sesungguhnya Allah telahpun menolongnya, iaitu ketika kaum kafir (di Makkah) mengeluarkannya (dari negerinya Makkah) sedang ia salah seorang dari dua (sahabat) semasa mereka berlindung di dalam gua, ketika ia berkata kepada sahabatnya: "Janganlah Engkau berdukacita, sesungguhnya Allah bersama kita". maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Nabi Muhammad) dan menguatkannya dengan bantuan tentera (malaikat) yang kamu tidak melihatnya. dan Allah menjadikan seruan (syirik) orang-orang kafir terkebawah (kalah dengan sehina-hinanya), dan kalimah Allah (Islam) ialah yang tertinggi (selama-lamanya), kerana Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.

41.
Pergilah kamu beramai-ramai (untuk berperang pada jalan Allah), sama ada dengan keadaan ringan (dan mudah bergerak) ataupun dengan keadaan berat (disebabkan berbagai-bagai tanggungjawab); dan berjihadlah dengan harta benda dan jiwa kamu pada jalan Allah (untuk membela Islam). Yang demikian amatlah baik bagi kamu, jika kamu mengetahui.

42.
Kalau apa yang Engkau serukan kepada mereka (Wahai Muhammad) sesuatu yang mudah yang sudah didapati, dan satu perjalanan yang sederhana (tidak begitu jauh), nescaya mereka (yang munafik itu) akan mengikutmu; tetapi tempat Yang hendak dituju itu jauh bagi mereka. Dan mereka akan bersumpah dengan nama Allah dengan berkata: "Kalau kami sanggup, tentulah kami akan pergi bersama kamu". (dengan sumpah dusta itu) mereka membinasakan diri mereka sendiri, sedang Allah mengetahui bahawa sesungguhnya mereka itu orang-orang yang berdusta (tentang tidak sanggupnya mengikutmu).
(Surah Al-Taubah: 38-42)


Ayat yang "direct to the point" boleh difahami tanpa tafsiran kitab-kitab yang hebat, Wallahua’lam.

petikan: wiraislam.blogspot


SIAPA KITA ?

Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang tidak mengambil berat akan waktu solatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s.

Siapakah orang yang manis senyumanya?
Orang yang ditimpa musibah lalu dia kata "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Lalu sambil berkata,"Ya Rabbi Aku redha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.

Siapakah orang yang kaya?
Orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.

Siapakah orang yang miskin?
Orang yang tidak puas dengan nikmat yang ada sentiasa menumpuk-numpukkan harta.

Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan...

Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang mempunyai akhlak yang baik.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan saujana mata memandang.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya. ..

Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang menghuni syurga kelak kerana telah mengunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka..



Sama-samalah kita bermuhasabah diri..


URUSKAN MASA & RINGKASKAN TUGAS



Kewajipan kita adalah lebih banyak daripada waktu yang kita ada, oleh itu bantulah saudaramu tentang cara-cara bagaimana hendak menggunakan masa dengan berfaedah dan jika saudara mempunyai tugas sendiri, maka ringkaskanlah pelaksanaannya, "

Demikian wasiat Hasan al-Banna yang terakhir.
Kepada setiap pendakwah atau seorang Islam yang sejati, masanya sangat penting.


Mereka harus waspada selalu dengan penggunaan masa. Masa yang tidak digunakan dengan teliti akan menyebabkan kita akan menyesal tanpa kesudahan.Ini kerana, masa yang sudah terlepas itu tidak boleh diganti lagi. Pepatah Melayu ada menyatakan, patah tumbuh hilang berganti. Tetapi, bidalan itu merujuk kepada seseorang pemimpin yang telah mati atau barang hilang yang mungkin boleh ditemukan semula atau sesuatu yang hilang dan boleh digantikan semula. Yang tak boleh digantikan semula ialah waktu, saat, detik, dan masa. Oleh kerana masa ini sangat penting, maka setiap bangsa punya peraturan, falsafah dan pepatah yang lengkap tentang kepenggunaan waktu.


Antara bangsa Asia, kita selalu mendengar bahawa bangsa Jepun menghargai waktu. Bagaimanapun mereka maju di dunia kerana falsafah penggunaan masa itu hanya sekadar untuk memenuhi keperluan di dunia. Sedangkan, Islam menyeru umatnya agar mengguna masanya guna memenuhi keperluan di dunia dan keperluan di akhirat. Pepatah Melayu menyebutkan bahawa masa itu emas. Malah emas, perak dan intan berlian sekali pun belum dapat menandingi harga emas. Kalau emas itu hilang, maka emas itu boleh dicari semula atau pun diganti dengan wang, tanah atau apa-apa pun yang ada harganya. Itulah kayu ukur yang menandakan masa itu sangat berharga. Iaitu, jika masa telah berlalu, maka tiada suatu kuasa apa pun yang dapat menggantikannya atau mengembalikannya. Tapi, jika emas hilang, nescaya ada seribu satu jalan, kuasa yang dapat berikhtiar menggantikannya.


Waktu tidak boleh dicipta, malah alam ini tercipta oleh peredaran waktu. Tuhan menyebut bahawa alam ini tercipta dalam enam masa. Masa cuma boleh dinamakan, dipenggal, dipecahkan, dipotong sebagai hari, minggu bulan serta dinamakan Ahad, Isnin dan sebagainya. Jika ada keperluan untuk amalan rohani gelap, maka ia dinamakan Keliwon mengikut lidah Jawa.


Masa itu tidak boleh direkabentuk seperti benda-benda yang boleh dipegang. Setiap yang boleh dipegang boleh dipatahkan dengan benda lain. Pokok yang dipatahkan rantingnya boleh tumbuh semula. Kerana itu, manusia boleh berkata, yang patah itu boleh tumbuh dan yang hilang boleh berganti. Ini kerana, patah dan tumbuh itu sifat benda dan bukan sifat masa. Malah, masa itu boleh mengancam manusia. Saidina Ali berkata, "Masa itu umpama pedang. jika kamu tidak 'memenggalnya' , nescaya ia akan 'memenggal' lehermu."


Sebenarnya yang menyebabkan masa itu berharga ialah disebabkan adanya kerja, tugas, amanah yang perlu disiapkan semasa waktu itu sedang berjalan. Jika bukan kerana itu, maka masa itu tidak berharga. Misalnya, dengan peredaran masa, pokok perlu membesar dan ia dijual dengan masa tertentu. Sebab itulah masa untuk menunggu pokok itu membesar amat berharga.


Dalam hal ini masa disalahgunakan dalam perniagaan yang melibatkan riba. Sekiranya kita tidak dapat melunaskan hutang dalam tempoh waktu tertentu, maka bunga (riba) akan naik. Demikianlah masa disalahgunakan dalam 'industri' riba.


Maka Hasan al-Banna telah memulakan wasiatnya dengan menggunakan ungkapan 'kewajipan kita' yang bermaksud usaha dakwah kepada umat ini. Kewajipan usaha dakwah ini ada pertalian yang amat erat dengan penggunaan waktu.

Masa makin singkat dan suntuk!


Tetapi jumlah usaha dakwah itu terlalu banyak jika dibandingkan dengan jumlah peruntukan waktu yang kita ada. Di dalam peruntukan 24 jam sehari semalam, kita mungkin memerlukan 48 bentuk dan 72 jenis dakwah. Dalam kata lain, kita mungkin perlukan 2 atau 3 kali ganda program dakwah atau lebih daripada itu dalam tempoh 24 jam. Itu maksud Hasan al-Banna; jumlah usaha dakwah perlu digembeling dalam jumlah waktu yang sungguh singkat. Masa seperti semakin pendek apabila terlalu banyak urusan dakwah yang perlu dibereskan.


...Pergerakan jarum jam kelihatan perlahan,
sebenarnya itu jarak ketinggalan kita dengan MASA !
Daripada Anas bin Malik r.a. berkata: Rasulullah s.a.w bersabda,
"Tidak akan terjadi kiamat sehingga masa menjadi singkat,
maka setahun dirasakan seperti sebulan dan sebulan dirasakan seperti seminggu
dan seminggu dirasakan seperti sehari dan sehari dirasakan seperti satu jam
dan satu jam dirasakan seperti satu percikan api."
(Hadis riwayat at-Tirmizi)


Hasan al-Banna, ketika menyusun wasiatnya, beliau mungkin terkesan dengan sabda Rasulullah s.a.w ini. Bilangan manusia yang ingin melakukan perubahan ke arah kebaikan dan islah sangat kurang berbanding manusia jahat yang memperuntuk masa dan hartanya ke arah kemusnahan dunia dan tamadun ini. Oleh itu bayangkanlah bagaimana keadaannya ketika kerja dakwah makin banyak menimbun ini terpikul atas bahu segelintir pendakwah sahaja yang inginkan kedamaian, kesejahteraan, kebaikan dan ketenangan di dunia dan akhirat.



Bantu manusia menguruskan waktunya


Barangkali.. lantaran terkesan dengan semua inilah, maka Hassan al Banna memulakan usaha dakwah di kedai-kedai makanan dan kedai-kedai kopi dan bukannya di masjid. Beliau benar-benar mahukan insan berpeleseran tanpa tujuan ini akhirnya akan faham matlamat hidupnya. Apabila manusia itu mula faham akan falsafah dan matlamat hidup, maka akan wujud manusia yang akan menggunakan masanya dengan betul, baik dan sempurna.Manusia yang telah mula dibangunkan kesedarannya ini akan tertanya-tanya pula tentang bagaimana seharusnya mereka mahu memanfaatkan waktunya di dunia ini sementara menunggu waktu di akhirat kelak.


Maka.. di sini Al-Banna menyarankan pendakwah agar membantu mereka yang telah terbuka hatinya untuk memahami bagaimana mereka perlu memanfaatkan waktunya untuk beribadah sementara menunggu waktu dihisab di akhirat kelak."Oleh itu bantulah saudaramu tentang cara-cara bagaimana hendak menggunakan masa dengan berfaedah dan kalau saudara mempunyai tugas sendiri, maka ringkaskanlah pelaksanaannya, " demikian pesan al-Banna lagi.


Orang yang telah dilembutkan hatinya dan dilunakkan jiwanya sentiasa tertanya-tanya mengenai apakah amalan yang harus dilakukan guna mencapai redha ilahi. Soalan semacam ini kerap hinggap di ranting pertanyaan sahabat dan baginda selalu hadir bagi menjawab setiap pertanyaan tersebut.
Ghairahnya para sahabat dalam beramal sehingga mereka kerap bertanya, apakah amalan yang paling baik dan bermacam pula jawapan baginda tergantung kepada keadaan rohani para sahabat itu. Jika dilihatnya sahabat itu menderhakai ibu bapanya maka baginda bersabda, berbuat baiklah kepada ibu bapa. Jika dilihatnya penyoal itu seorang yang panas baran, maka dia menasihatkan orang itu supaya tidak marah-marah.Mereka yang mula lunak kepada agama tidak tahu atau terlupa tentang cara-cara menggunakan masa sebagai yang disaran di dalam al-Quran. Mungkin kerana keterbatasan dalam bahasa Arab, mereka tidak faham mesej dalam surah Al-Muzzammil :


[1]
Hai orang yang berselimut!
[2]
Bangunlah sembahyang Tahajjud pada waktu malam,
kecuali dari sedikit masa (yang tak dapat tidak untuk berehat),
[3]
Iaitu separuh dari waktu malam, atau kurangkan sedikit dari separuh itu

[4]
Atau pun lebihkan (sedikit) daripadanya; dan bacalah Al-Quran dengan "Tartil."

[5]
(Sayugialah engkau dan pengikut-pengikutmu
membiasakan diri masing-masing dengan ibadat yang berat
kepada hawa nafsu, kerana) sesungguhnya Kami akan menurunkan
kepadamu wahyu (Al-Quran yang mengandungi perintah-perintah)
yang berat (kepada orang-orang yang tidak bersedia menyempurnakannya) .
[6]
Sebenarnya sembahyang dan ibadat malam lebih kuat kesannya
(kepada jiwa), dan lebih tetap betul bacaannya.

[7]
(Kami galakkan engkau dan umatmu beribadat pada waktu malam),
kerana sesungguhnya engkau pada siang hari mempunyai urusan-urusan
yang panjang kira bicaranya.


Orang yang didakwah atau mereka yang baru dinyalakan pencerahan rohani dalam dirinya, selalu hidup pelbagai ragam persoalan dalam hatinya dan menyalalah pula pelbagai rencam pertanyaan yang berwarna-warni dalam dirinya berhubung langkah-langkah awal menuju ke arah kesempurnaan hidupnya sebagai manusia terbaik.

Jadi, bagaimana mereka harus bermula? Jika ada amalan permulaan, maka apakah amalan permulaan itu?
"Dan bangunlah pada sebahagian dari waktu malam
serta kerjakanlah "Sembahyang Tahajjud" padanya sebagai sembahyang tambahan bagimu, semoga Tuhanmu membangkitkan dan menempatkanmu
pada akhirat di tempat terpuji."
(Al-Isra': 79)

Adakah insan yang baru merangkak, baru melabuhkan pencarian untuk mendakap pencerahan jiwa serta akal fikirannya dapat menyelami hasrat Tuhan sebagai yang terkandung ayat-ayat al-Qur'an di atas? Mereka perlukan masa untuk dibimbing serta masa perlukan pembimbing yang sabar, teguh hati, kuat pendirian, bijaksana, berhemah tinggi yang kental spiritual.



Ringkaskan amalan untuk membantu saudara lain

Sebab itulah Al-Banna menyarankan anggota Ikhwan Muslimin atau para pendakwah meringkaskan sahaja urusan mereka untuk membantu saudara mereka yang mahu dibangkitkan kesedaran dalam jiwanya.Bagi Al-Banna, amalan peribadi yang bertujuan menolong keperluan peribadi di akhirat, hanya bermanfaat untuk keperluan mereka sahaja. Sedangkan, usaha mengirim ilmu ke dalam dada manusia yang kosong tanpa dihuni hikmah pengetahuan sangat berguna kepada kedua-dua pihak, sama ada pihak pendakwah dan pihak yang didakwah.


Petunjuk agama menyatakan bahawa, jika ada seseorang beramal dengan sebab ajaran kita, maka pahala dengan sebab amalan itu turut mengalir ke dalam 'akaun pahala' kita kelak. Sebab itu, pendakwah perlu meringkaskan dan menyedikitkan ruang untuk keperluan amalan peribadi supaya lebih banyak ruang dapat dimanfaatkan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran ke atas manusia lain yang dahagakan pengetahuan daripada mereka.


Mereka yang berkhalwat, beruzlah, dan bersuluk tanpa berusaha keras menggerakkan nurani manusia untuk mendapat imbuhan pencerahan rohani daripada Tuhan, tidak termasuk dalam jenis manusia pencerahan. Al-Banna, Badiuzzaman Said Nursi, dan lain-lainnya adalah ulamak sufi dan bersuluk di 'gua pertapaan' lalu keluar ke lapangan dalam usaha memerangi amalan khurafat dalam pemerintahan manusia mustakbirin sekali gus menyinari mendung awan hitam yang membalut kegelapan hati manusia mustadh'afin.



(Artikel dipetik daripada Fahri Abdullah AlMasri -Sekolah Pemikiran Kg Baru)